19 Mei 2011

KISAH IDA BETARA KAWITAN

        Bahwa Shri Java Para, setelah beliau tamat dari Perguruan Pengaksaran dan Perguruan Kawisesan kanuragan ke hadapan Dang Hyang Kepakisan. seorang Pandita Sakti dari desa Gurah Kediri yang termasyur tentang tapa berata dan yoganya. beliau Sfiri Jaya Para diangkat menjadi Kriyan Mapatih dalam Kerajaan Majapahit dibawah pimpinan Raja Sri Buana Tungga Dewi dan pula dibawah pimpinan Maha Patih Gajah Mada, selama Shri Jaya Para bertugas didalam kerajaan kemudian berkenaan dengan keaktifannya bertugas sebagai Kriyan Mapatih terhadap kerajaan dan raja begitu pula baik terhadap pimpinan lalu beliau Shri Jaya Para ditingkatkan kedudukannya menjadi Perdana Menteri/Panglima didalam Kerajaan Majapahit dengan mendapat titel Gajah lalu beliau bergelar Arya Gajah Para dan bertugas didalam Kerajaan Majapahit.
 
Untuk mengembangkan wilayah Majapahit maka terbentuklah lima serangkai Majapahit yang terdiri dari Rakiyan yang empat dan seorang Mahapatih yang kementeriaan negara dibawah pimpinan Mahapatih Gajah Mada, dan pada waktu itu pula di Pulau Bali Kerajaan Bali Age di Bedulu dipimpin oleh Shri Astasura Ratna Bhumi Banten, kemudian untuk menaklukan Bali Age di Bali, lain Mahapatih Gajah Mada dan Arya Damar dengan beberapa petugas diantaranya melakukan siasat upaya sandi ke Bali, selaku utusan dari Kerajaan Majapahit menghadap Dalem Bedulu yang akhirnya tercapailah apa yang menjadi tujuan Kerajaan Majapahit sehingga Raja Bedulu merasa kecewa atas politiknya Mahapatih Gajah Mada terhadap Kerajaan Bali Age yang menyebabkan Dalem Bedulu merasa malu dan kalah perbawa karena politiknya dikalahkan oleh Mahapatih Gajah Mada dan selanjutnya Raja Bedulu meninggalkan Paseban, lenyap menuju pertapaan untuk melanjutkan cita citanya supaya lepas dari samsara sampai kepada moksah sedangkan urusan kerajaan diserahkan kepada Ki Pasung Gerigis dan lanjut menggantikan menjadi Raja Bali Age, Setelah lenyapnya Dalem Bedulu dan tewasnya Ki Kebo Iwa lalu sekitar tahun 1343 Kerajaan Majapahit menyerang Bali dengan angkatan perangnya dibawah pimpinan Mahapatih Gajah Mada dan diatur penyerangannya sebagai berikut;

Penyerangan ke Bali dipimpin oleh Mahapatih Gajah Mada dengan disertai oleh Arya Damar, Arya Beleteng, Arya Kenceng, Arya Sen long, Arya Belog, Arya Kuta Waringin, Arya Kanuruhan dan Patih patih Brahmana turunan Mpu Wita Darma dan paling akhirArya Gajah Para dengan disertai oleh tiga Wesiya yaitu ; Si Tan Kober,Si Tan Kaur, Si Tan Mundur maka dalam penyerangan sebagai berikut :

1.        Mahapatih Gajah Mada dan Kyai Kula Wangsa Wita Darma menyerang dari arah sebclah timur Gunung Tolangkir ( Gunung Agung).
2.        Arya Damar, Arya Sentong dan Arya Kuta Waringin menyerang dari arah sebelah utara.
3.        Arya Kenceng, Arya Belog, Arya Beleteng, Arya Kanuruhan dan Arya Pengelasan memyerang dari sebelah selatan.
4.        Arya Gajah Para disertai oleh Si Tan Kober, Si Tan Kaur, Si Tan Mundur menyerang dari arah Timur laut.

Maka dalam melakukan penterangan terhadap musuh dibuatlali satu tanda dengan mempergunakan api yaitu ; jika ada kelihatan kukus api mengepul ke udara suatu tanda penyerangan sudah mulai dilakukan terhadap musuh setelah selesai permusyawaratau lalu masing masing kelompok mengatur pasukamiya dan segera menuju pelabulian untuk menaiki perahu dan menyeberang Bali lalu menyerang tempat tempat yang telah ditentukan dan Arya Gajah Para beserta pasukannya menuju Bali dari arah timur laut dan mendarat di tepi pantai Desa Tianyar.

Setelah perahunya berlabuh semua pasukannya turun ke darat dengan menyiapkan perlengkapan perang dan perbekalan, didalam istirahat sebagian besar pasukan membutuhkan air minum kebutulan didaerah tersebut keadaan sangat kering hanya laut membentangyang membatasi maka dalam lial ini karena sangat membutuhkan air minum lalu beliau, Arya Gajah Para sebagai pemimpin pasukan bcrsemcdi mohon ke hadapan Sang Hyang Widi Wasa agar bisa mendapatkan air, atas asung Waranugraha Ida Sang Hyang Perama Kawi maka terkabullali permohonannya lalu seketika itu pula limbullah mata air yang jeraih dan putih bersih maka selanjutnya disebut Toya Anyar, oleh kerena perbekalan sudah lengkap maka perjalanan terus dilanjutkan ke arah barat daya menuju hutan untuk mencari tempat berteduh sesuai dengan petunjuk Nabenya.

Sampai di tengah hutan beliau tertarik dengan panorama yang lokasinya sangat mengesankan kesejukan dan keindahan alamnya. yang mana lokasi tersebut sesuai dengan petunjuk guru/nabenya yang sevvaktu akan berangkat dari Majapahit ke Bali sebelum menyerang musuh agar membuat asrama serta tempat pemujaan ka hadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa agar waktu berperang bisa mengalahkan musuh, mengingat pesan nabenya maka setelah selesai membuat asrama serta lengkap dengan tempat persembahyangnya lalu tempat itu diberi nama Suke Kong Nube yang akhirnya mcnjadi Suke Ngenebi lengkap dengan pemujaan, sebuah Pelinggih Padma untuk mohon restu serta kekuatan ke hadapan Ida Sang Hyang Widi, setelah selesai keseluruhannya maka mulailah bersiap siap untuk berperang menggempur musuh, sebelum berjalan maka Arya Gajah Para sambil memimpin pasukannya melakukan persembahyangan bersama di hadapan Pelinggih Padma sana dan tepat pada waklunya terlihatlah landa kukus api mengepul ke udara yang pertanda penyerangan segera bisa dimulai dan pasukan bergerak mulai dari Songan, Batur, Cempaga, Kedisan, Abang, pinggan, Munti, Peledu, Cintamani, Serai, Manik Liu, Bonyoh, Tarn, Bayad, Sukewena, yang merupakan pusat permusuhan serta desa desa di sebelah timur seperti; Culik, Tista, Basang Alas, Got Marga Tiga, Sekul Kuning, Gehnten, Loka Serana, Puwahan, Bulakan, Samatan, Tulamben, Batu Dawa, Muntig, Juntal, Cerucut, Bantas, Kutabayan, Watu Wayang, Kedampal, Asti dan lain lain begitu pula dengan tiga orang Wesiya, mengambil jalan bagian barat; Bangkah, Pacung, Julah dan terus ke timur, laskar Majapahit melakukan serangan bersama menurut tugasnya masing masing dengan membawa kemenangan dengan terbunuhnya kepala kepala pasukan perang Bali Age sehingga orang orang Bali Age menyerah dan takluk serta mengakui Kerajaan Majapahit sedangkan Ki Pasting Gerigis di tawan oleh pasukan Patih Gajah Mada dan dipenjarakan di Tengkulak.

Setelah Bali Age ditaklukan oleh Kerajaan Majapahit dan untuk menjaga keamanan dan ketentraman di Bali lalu Arya yang mengikuti pasukan yang dipimping oleh Mahapatih Gajah Mada ke Bali diangkat menjadi pimpinan keamanan dengan pembagian tugas masing masing sebagi berikut;

1.        Kulawangsa Wita Darma di Gelgel.
2.        Arya Kenceng di Tabanan.
3.        Arya Belog di Kaba Kaba.
4.        Arya Kuta Waringin di Kelungkung.
5.        Arya Beleteng di Penatih
6.        Kyai Arya di sebelah Selatan Gunttng Tolangkir ( GunungAgung).
7.        Arya Punta di Mambal.
8.        Arya Jerudeh di Temukti.
9.        Arya Kanuruhan di Tangkas.
10.    Kyai Malele Cengkerong Bang di Jemberana,
11.    Arya Sentong di Pancung.
12.    Arya Kapekisan di Bedulu kemudian pindah ke Nytth Aya.
13.    Arya Delancang di Kapal.

Setelah semuanya menerima tugas masing masing lalu Mahapatih Gajah Mada, Arya Damar dan Arya Gajah Para beserta tiga Wesiya pulang kembali ke Majapahit sambil membawa tawanannya (Pasting Gerigis) serta membawa laporan lengkap dari hasil kemenangannya berperang di Bali kepada Raja Majapahit dan atas kebijasanaan Mahapatih Gajah Mada lalu Ki Pasting Gerigis dapat diampuni oleh raja dan diangkat mcnjadi kepala pasukan perang untuk menyerang Pulau Sumbawa yang pada waktu itu Siunbawa dipimpin oleh Raja Deldela Nata yang bcrakhir denga sama sama tewas dalam pcpcrangan, sedangkan Arya Gajah Para kembali bertugas didalam Kerajaan Majapahit.

Setelah Pulau Bali dirasakan sudah anian bcrkat penjagaan para Arya scdangkan untuk memimpin kerajaan di Bali belum ada yang memerintah untuk berhubungan dengan pemerintahan Majapahit maka atas kebijasanaan Mahapatih Gajah Mada lalu diangkatlah Putra dari Shri Kresna Kepaki atau cucu dari Dang Hyang Kapakisan yang bungsu (Dalem Ketut) diangkat menjadi raja di Bali, bcrkedudukan di Samprangan dan bcrgclar Dalem Ketut Kresna Kepakisan bertahta di Samprangan setelah bcliau menjadi raja di Bali, maka para Arya yang telah lebih dulu berada di Bali lalu diangkat menjadi pcgawai kerajaan, sehingga atas kebijaksanaan beliau serta para Arya, rakyat bali menjadi aman dan tentram, tetapi orang orang Bali Age tidak mau mengindahkan serta tidak mengakui kekuasaan Dalem Ketut, dengan adanya pemberontakan pemberontakan yang dipimpin oleh Tokawa, yaitu Putra dari Dalem Bedulu, sehingga banyak pasukan Majapalut yang berada di Bali menjadi korban.

Sudah banyak cara dan daya upaya yang dilakukan oleh para Arya untuk mengatasinya juga tidak berhasil, bahkan pemberontakan pemberontakan semakin merajalela, terutama pemberontakan di Ularan, yang dipimpin oleh Tokawa, Pasung Girl dan Si Tunjung Tutur, Tokawa adalah Putra dari Dalem Bedulu yang berkedudukan di Belingkang, atas bantuan dari Ki Pasung Giri dari Ularan dan Si Tunjung Tutur dari Tianyar, dapatlah Tokawa memusatkan tenaga rakyat Bali Age dengan meletusnya pemberontakan di Ularan, dalam pemberontakkan itu Pasukan Majapahit yang berada di Bali banyak yang binasa sehingga para Arya menjadi sangat resah dan terus mcnghadap Dalem Ketut, dan selanjutnya Dalem Ketut melaporkan keadaan di Bali kcpada Kerajaan Majapahit, sehingga Mahapatih Gajah Mada mengerahkan pasukannya berangkat ke Bali langsung dipimpin  sendiri dan diikuti pula oleh Arya Damar dan Arya Gajah Para beserta tiga Wesiya, Si Tan Kober, Si Tan kaur, Si Tan Mundur, ketika itu turut pula Shri Kuta Wardana, yaitu suami dan Raja Majapahit untuk mengatasi pemberontakan di Bali, lalu penyerangannya dibagi dua, yaitu ;

1.        Pasukan yang dipimpin oleh Mahapatih Gajah Mada, Shri Kuta Wardana dan Arya Damar mendarat dari arah selatan ( di Kuta ).
2.        Pasukan yang dipimpin oleh Arya Gajah Para beserta 5V Tan Kober, Si Tan Kaur dan Si Tan Mundur mendarat dari arah timur laut, ditempat beliau mendarat dulu, sewaktu memohon mata air ke hadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa, ternyata mata air itu masih ada airnya tergenang maka ditempat air itu disebut Telaga Ngembeng dengan air yang sangat jernih dan bersih ToyaAnyar), pasukan yang dipimpin beliau lalu menuju ke asrama Suke Ngeneb dari sanalah beliau (Arya Gajah Para ) mengatur siasat peperangan dan sebelum berangkat ke medan perang beliau terlebih dulu melakukan persembahyangan ke hadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa, beserta pasukannya dihadapan Palinggih Padma sana untuk mohon kekuatan dan keselamatan serta kewibawaan dalam peperangan melawan pemberontak.

Setelah tanda penyerangan dimulai maka segera mengadakan penyerbuan dari sebelah selatan dan utara, maka terjadilah perang besar besaran selama tujuh hari siang malam yang akhirnya Tokcnva dan Pasting Giri terbunuh, dibunuh oleh pasukan yang dipimpinArya Damar dan segera Arya Damar membuat benteng di Ularan sedangkan Si Tanjung Tutur dibunuh oleh Arya Gajah Para, Pasukan Bali Age mengetahui pimpinan perangnya terbunuh lalu lari cerai berai dan terus dikejar oleh Pasukan Majapahit menuju selatan sehingga pimpinan pimpinan perang Pasukan Majapahit bertemu dengan Mahapatih Gajah Mada di Tawing (Kuta) dan selanjutnya untuk memeperkuat penjagaan dan keamanan di Bali lalu Dalem Ketut menyusun badan pemerintahan di Bali sebagi berikut;

1.        Pangeran Nyuh Aya diangkat menjadi Patih bergelar Arya Kepakisan.
2.        Arya Wang Bang diangkat menjadi Demung.
3.        Arya Kuta Waringin diangkat menjadi Demung.
4.        Arya Delancang diangkat menjadi Tumenggung.
5.        Arya Be log diangkat Tumenggung.
6.        Arya Kenceng diangkat menjadi Tumenggung.
7.        Arya Kanuruhan diangkat menjadi Tumenggung

Sedangkan Arya Gajah Para karena jasanya memadamkan pemberontakan bagian timur terutama membunuh Si Tunjung Tutur, oleh Dalem Ketut dan Raja Majapahit lalu Arya Gajah Para diberikan Beretea/kekuasaan memegang wilayah Bali dari utara ke timur yaitu sebelah barat dari Ponjok Batu sampai ke Warna Garba ( Basang Alas ) mengingat Arya Gajah Para turun ke Bali mendarat di Pantai Tianyar, dan atas asung Waranugraha Ida Sang Hyang Widi Wasa terkabul menciptakan mata air yang airnya sangatjemih putih bersih denga lain kata ToyaAnyar, maka daerah pemerintahan bcliau disebut TOYA ANYAR, dengan batas wilayah dari barat Desa Ponjok Batu sampai ke timur Desa Basang Alas, maka daerah tersebut bernama TOYA ANYAR berkedudukan di Suke Ngeneb, selama Arya Gajah Para memegang pimpinan atau kekuasaan di Toya Anyar yang berkedudukan di Suke Ngeneb, keadaan daerah sangat tertib aman dan tentram begitu pula di dalam Puri Suke Ngeneb dalam keadaan rukun dan tenang, beliau mempunyai dua orang putra dan seorang putri yaitu sebagai berikut;

SHRI AJI SIRA ARYA GAJAH PARA
(memegang Kekuasaan Wilayah Toya Anyar Suke Ngeneb )
SHRI AJI SIRA ARYA GAJAH PARA + DIAH AYU AWETARA
______________________________________________
|                                                 |                                         |
ARYA GAJA PARA II               DIAH AYU WE SUKLA          ARYA GETAS

Setelah sama sama dewasa dan lamat dalam menulut ilmu pcngctahuan dan kamuragan, rnaka putranya yang pertama (Arya Gajah Para II) menggantikan kedudukan KangAji di Puri Suke Ngeneb dan Diah Ayu We Sukla ngaran / Gusti Ayu Gajah Para, ginamet isri oleh Dalem Ketut Kresna Kapakisan ring Samrangan sedang didudukan menjadi kepala adat agama di Tianyar dan tempat beliau berkedudukan disebut Banjar Getas Tianyar, selanjutnya ngewangun kahyangan tiga, Pura Penghastu Lan Desa Betara Kabeh, Pura Dalem Lan, Pura Segara, ketiga pura itu berfungsi tri kahyangan yaitu;

1.        Pura Penghastu Lan Desa Betara Kabeh ( Pura Desa ), tempat memuja Betara Brahma, manefestasi dari Ida Sang Hyang Widi (Maha Pencipta).
2.        Pura Dalem lokasinya sebelah utara pura desa tempat memuja Betara Siwa, manifestasi dari Ida Sang Hyang Widi (Pelebur).
3.        Pura Segara lokasinya di Pantai Desa Tianyar tempat memuja Betara Wisnu, manifestasi dari Ida Sang Hyang Widi (Pemelihara ).

Tri Kahyangan inilah yang telah dibangun oleh Arya Getas bersama masyarakatnya dan sebagai alat mempersatukan adat dan pengembangan agama yaitu Agama Hindu hingga kini, setelah SHRI AM SIRA ARYA GAJAH PARA menyerahkan kekuasaannya kepada putranya yaitu Arya Gajah Para II maka beliau melanjutkan meloka palas raya oleh Nabe, dan bergelar Sang Rest Sakti dan setelah beliau meraga Resi, lalu beliau menciptakan GAMAPATI yzng khusus dianugerahkan kepada sanak keluraganya untuk dipergunakan melaksanakan Pitra Yadnya, menuntut kesucian roh guna mendapat tempat yang wajar di sisi Tuhan, Ida Sang Hyang Widi Tunggal, yang merupakan sarana berupa ; BadeTumpang Sembilan, Dasar Empas Naga Lilit, Titi Mamah, Kebo Ki Nelet, Bale Gurni gumian, Singa Ambara Laki-Bi, dan Lembu bagi Sang Meraga Resi, Dalem Kemimitan maka Lingga, dan dengan runtutan Surat Kajang (Kajang Pinadma) Pelase Pinadma, Reje Dana Pinadma, Pehtih Peripih, Surat Payu disefautkan Tri Kaya Suda Para Mart a Mower at 16.000, Busananing Sang Maha Putus Buat Kesunyian, naik Tumpang Salu, dengan Upacara Manut Pelelutuk.

Demikianlah GAMAPATI yang dianugeralikan kepada sanak keluarganya dan keturunannya dan selanjutnya Sang Resi Sakti bergelar ; SANG RESI SAKTI MADUE GAMA, maka tiada lama tibalah Panamayaning Pati Sang Resi Sakti Madue Gama agar beliau meninggalkan alam Mayapada unluk kembali ke Sitnia Loka, lalu beliau mcmanggil sanak keluarganya serta Padmi (istri) berkenan dengan Panamayaning Pati beliau tclah tiba, dan dengan wajah berseri serf kegembiraan beliau memberikan nasihat nasihat dan wejangan dengan tiada penyesalan bersama sama mengemukakan keihklasan hati untuk berpisah begitu pula Padmi (istri) dengan hati yang maha suci bersih dan wajah yang berseri sen menyatakan bela setia ke hadapan suami maka oleh Sang Resi dapat menerima pernyataan istrinya, lalu memberikan petunjuk dan bersabda; "ikutilah perjalananku dengan jalan melabu geni, cara inilah kakak berikan kepadamu untuk kembali ke Sunia Loka ", setelah selesai beliau memberikan wejangan kepada istrinya lalu beliau memberikan amanat kepada sanak keturunannya bahwa ; karena kini Panamayaning Pati telah tiba beliau akan ke Sunia Loka denga tanda tanda bila nanti ada kukus mengepul ke udara, disanalah beliau lenyap ( Prama Moksah ), lalu beliau Sang Resi Sakti Madue Gama berjalan menuju ke arah Surupnya Sang Hyang Baskara, menuju tempat Ndewa La Ya Nujur Kadewatan, tiada lama antaranya maka terlihatlah oleh istri beserta sanak keluarganya kukus (asap) mengepul dan semua keluarga yang ditinggalkan lalu mengiringkan dengan sembah, dalam arti mengucapkan Selamat Jalan dan Berpisah, kemudian di tempat asap yang mengepul itu beliau lenyap tanpa jenazah atau Layon, dalam arti Nirwanalah Beliau /Perama Moksah (hilang tanpa wujud ), maka oleh sanak keluarganya dan keturunannya tempat pemoksahan atau pendewelayaannya beliau Sang Resi Sakti Madue Gama disebut DALEM KADEWATAN SANG RESI SAKTI MADUE GAMA, dalam arti Dewatan Sang Resi Sakti Madue Gama telah meningkat kesuciannya berkat Kawisesaanya dan ketekunan beliau menjalankan Tapa Berata dan Yoga Semadi, sehingga tercapainya Perama Moksah atau Nirwana, bebas dari ikatan Punarbawa atau Samsara, dimana Sang Hyang Atman beliau telah menunggal dengan Ida Sang Hyang Prematma ( Ida Sang Hyang Widi ) bergelar SANG HYANG PRAM SIWA SUNIYATMANENAMAH, menempati alam tingkat VII atau Satia Loka.

Begitulah keluhuran pribadinya beliau Sang Resi Sakti Madue Gama /SHRI AJI SIRA ARYA GAJAH PARA yang patut di puja khusus oleh warga ketutunannya yang juga dapat disebut Dang Hyang Kemimitan berkahyangan di Pura Dalem Kadewatan di Suke Ngeneb Gangga Luah ToyaAnyar oleh sanak keturunannya beliau Keragayang Kawitan, setelah Sang Resi Sakti Madue Gama Moksah lalu Padmi (istrinya) mengikuti perjalanan SangResi dengan jalan melabuh Geniyang langsung disaksikan oleh Sang Hyang Berawi maka tempat beliau melabuh Geni disebut Merajan Tunon, setelah diupacarakan maka kcsuciaannya atau roh sucinya meraga Nisklatma Menunggal dengan Kawisesan Ida Sang Hyang Perama Kawi meraga Sada Siwa lalu meraga Sada Siwa Niskalaatmanenamah, menempati alam tingkat ke VI atau Maha Loka, setelah SHRI AJI SIRA ARYA GAJAH PARA (SangResi Sakti Madue Gama) Moksah dan Keragayang Kawitan, bersetana di Pura Dalem Kadewatan di Suke Ngeneb Gangga Luah Toya Anyar, maka pemerintaliannya dipegang oleh putranya yaitu Arya Gajah Para II, (untuk jelasnya lihat silsilah beliau).
 
Silsilah SHRI AJI SIRA ARYA GAJAH PARA
SHRI AJI SIRA ARYA GAJAH PARA
(Sang Resi Sakti Madue Gama)
Berputra ;
_______________________________________
|                                         |                                   |
ARYA GAJAH PARA II     DIAH AYU WE SUKLA     ARYA GETAS
             berputra ;                                                                           berputra ;
- I Gusti Ngurah Sukengeneb                                                        - I Gusti Ngurah Getas
- I Gusti Ngurah Tianyar (berputra) -----|                                      - I Gusti Made Getas
                                                              |                                        (berkelana ke sasak)
                _______________________|_______________________
                |                                             |                                              |
I Gusti Ngurah Kaler               I Gusti Made Tianyar               I Gusti Ayu Tianyar
                                                                                            Ngaran I Gusti Ayu Gajah Para ginamet
                                                                                                                           rabi oleh Ida Pedanda Sakti Manuaba

Pada sekitar tahun 1460 diadakanlah pertemuan di Pun Suke Ngeneb yang diliadiri oleh sanak warga puri antara lain Arya Gajah Para II beserta cucunya/gusti Ngurah Kaler dan/Gusti Made Tianyar serta dari Banjar Getas Tianyar hadir Sira Arya Getas bcrsama putranya yaitu / gusti Ngurah Getas sedangkan/Gusti Made Getas sedang berkelana ke Sasak (Lombok), dalam pertemuan itu dibahas masalah tujuan warga puri, baik warga Puri Suke Ngeneb maupun warga dari Banjar Getas Tianyar yang bertujuan untuk membangun sebuah pendarmaan untuk mengenang jasa dan kebesaran serta kewibawaan leluhur (SHR1AJ1 SIRA ARYA GAJAH PARA) semasa beliau memegang kekuasaan di daerah ToyaAnyaryang berkedudukan di Puri Suke Ngeneb dan pula untuk mengenang jasa jasa beliau sewaktu mengamankan serta menewaskan Si Tunjung Tutur yang memeberontak di Tianyar dan turut pula mengamankan terutama di Bali bagian timur, dan atas permintaan rakyat dibawah pegangan masing masing di wilayah Toya Anyar, tcrmasuk Banjar Getas Tianyar.

Setelah pertemuan berlangsung dan pula atas saran dari Arya Gajah Para II untuk melaksanakan bangunannya tcrlcbih dulu agar salah satu cucunya menghadap Dalem Ketut ke Klungkung yaitu kepada Dalem Ketut Ngulesir untuk mohon ijin serta doa restu dari beliau maka setelah musyawarah lalu ditunjuklah I Gusti Ngurah Kaler pergi menghadap Dalem ke Klungkung, setelali selesai pertemuan itu maka semua ke tempatnya masing masing dan/Gusti Ngurah Kaler segera berangkat ke Klungkung menghadap Dalem sesuai dengan petunjuk Kakiyangnya (Arya Gajah Para II), selang beberapa hari sepeninggal/Gusti Ngurah Kaler pergi ke Klungkung, keadaan di Puri Suke Ngeneb sedang suram disebabkan Arya Gajah Para II dalam keadaan sakit parah yang didampingi oleh cucunya yaitu / Gusti Made Tianyar, merasa beliau tidak lama hidup di dunia maka pada hari itu berpesanlah beliau kepada cucunya yaitu/Gusti Made Tianyar dengan pesan sebagai berikut; "DUHPUTUNKU YAPUAN ULUN AMEREYATE, AYUA SIRA NUASTA SAWANING ULUN PANGGUNG VGA YE RYAGANING GIRI MANGUN, SIRA ANGENAKEN PAKEMIT, ADULUR TETABUHAN, MWANG GAGITAYAN DEN AREMYAN REMYANA SATATHA APA MATANGNYA MANGKANA, DENING PITEKET SANG USDICINNGUNI", yang artinya" Oh, cucunda I Gusti Made Tianyar, apa bila Kakiyang wafat, janganlah Kakiyang di upacarakan Nuasta, jenazah Kakiyang agar dipanggung di Giri Mangun agar mengadakan penjagaan, beserta bunyi bunyian mengadakan pembacaan Lontar, agar meriah lalu apa sebabnya demikian karena itu pesan dari leluhur dahulu", demikdanlah diartikan oleh Gusti Made Tianyar pesan Kakiyangnya (Arya Gajah Para II), maka/Gusti Made Tianyar sangat memperhatikan sekali pesan Kakiyangnya dan dipegang teguh tidak berani menentangnya, sehabis memberikan pesan kepada cucunya lalu beliau Arya Gajah Para II wafat dengan tenang, maka dalam hal ini/Gusti Made Tianyar memberitakan Kakiyangnya wafat kepada warga puri dan sanak keluarganya yang di Banjar Getas Tianyar, maka berkumpullah seinua keluarganya di Puri Suke Ngeneb untuk melaksanakan upacaranya dan mengingat I Gusti Made Tianyar sebelumnya telah diberikan pesan oleh Kakiyangnya maka beliau bersiap siap menyediakan peralatan selengkapnya untuk manggung jenazah Kakiyangnya ke Girt Mangun.

Tepat pada waktu itu datanglah / Gusti Ngurah Kaler dari Puri Klungkung dan terus menyampaikan permononannya kepada Dalem yaitu rencana membangun pendarmaan telah direstui oleh Dalem Ketut Ngulesir dan pada waktu itu pula melihat sanak keluarganya berkumpul, Gusti Ngurah Kaler merasa kaget lalu menanyakan hal tersebut kepada adiknya maka/Gusti Made Tianyar memaparkan bahwa Kakiyang telah wafat dan disampaikan pula pesan Kakiyangnya dari awal hingga akhir kepada kakaknya (I Gusti Ngurah Kaler), meliahat peralatn upacara telah tersedia maka I Gusti Ngurah Kaler menanyakan cara pelaksanaan upacaranya lalu oleh I Gusti Made Tianyar diutarakan bahwa pelaksanaanya sesuai dengan pesan pesan Kakiyangnya, dijelaskan bahwa Jenazah Kakiyangnya akan dipanggung di Giri Mangun, mendengar ucapan / Gusti Made Tianyar maka / Gusti Ngurah Kaler tidak bisa menerima, maka dikumpulkanlah semua warganya termasuk keluarga dari Banjar Getas yang sedang berada di Puri Suke Ngeneb lalu / Gusti Ngurah Kaler memberikan penjelasan kepada adiknya (I Gusti Made Tianyar) bahwa pesan dari Kakiyangnya salah adik artikan dan rencana pelaksanaan upacara yang akan adik laksanakan salah dan bertentangan dengan adat, seandainya kalau tidak diberikan Nuasta itu memeang benar, tapi kalau adik akan manggung jenazah beliau ke Giri Mangun itu disalahkan oleh Adat Pekeraman, baluva Kakiyang memberikan pesan harus dikupas artinya, dan nienurut kakak dari Giri Mangun ialah Girl yang artinya Gunting scdimgkan Mangun artinya Weivangunan jadi Giri Mangun artinya (fuming Weivangunan alau Gunung Buatan (Balai Cede) sesuai dengan Picecel Ieluhur bahwa setelah layon dibersihkan naik Pelekungan ( Tumpang Salu) ditempatkan di Balai dctlc scrla dengan sarana Upacara Pelebon Manut Pelelutuk yaitu ; Kajang Pinadina. Plasa Pinadina, Recedana Pinadina, Pripih Pripih, Kakitir, Surat Payuk elisehutkan Tri kaya Suda Para Marta Mawerat 16.000, Busananing Sang Maha Putus buat Kesuniyaan dengan Mode bertingkat 9, berdasar Empas Menaga Lilit, Titi Mamah Kebo Kinelet bale bale Gumi Gumian, dengan Petualangan Singa Amhara Laki-Bi, Mina Lodra dan Lentbu bagi Sang Meraga Resi Dalem Kemimitan maka Lingga, ilulah lengkapnya Gamapali yang kakak terima dari leluhur, dan semua yang lurul mendciigarkan penjelasan / Gusti Ngurah Kaler kepada adiknya / Gusti Made Tianyar semua mcmbenarkannya termasuk Kakiyangnya yang dari Banjar Getas   (Sira Arya Getas) bersama keluarganya, maka upacara dilangsungkan sesuai dengan penjelasan dari I Gusti Ngurah Kaler sedangkan diwaktu upacara sedang berlangsung 7 Gusti Made Tianyar mengasingkan diri karena merasa dihina oleh kakaknya, setelah Upacara Pitra Yadnya selesai hingga Ngelingga Setanaang Roh Suci Kakiyangnya yang telah meraga Niskalaatma maka lanjul roh sucinya meraga Nisklaatma di Lingga Setanaang di Pura Dalem Kadewatan turut dengan Roh Suci Ajine yang telah meraga Suniyatma (SHRIAJ1 SIRA ARYA GAJAHPARA) maka kembalilah sanak keluarganya ke Banjar Getas Tianyar dan keluarga lainnya ke tempat masing masing.

Setelah di Puri Suke Ngeneb dalam keadaan sunyi maka kesempatan ini dipergunakan oleh 7 Gusti Made Tianyar untuk membalas sakit hatinya karena dihadapan sanak keluarganya merasa dipermalukan oleh kakaknya maka baliau merencanakan akan membunuh kakaknya (I Gusti Ngurah Kaler) dalam hal ini 7 Gusti Ngurah Kaler juga telah mengetahui rencana adiknya maka sambil membawa keris bernama KiBaru Pangesan beliau bersiap siap menjaga dirinya maka pada suatu saat datanglah adiknya sambil membawa keris bernama / Tanpa Sirik akan membunuh kakaknya maka peperangan di puri tidak bisa dihindari lagi karena sama sama mempertahankan kebenaran terjadilah perang saudara dan turut pula para pengikutnya mendukung para pemimpinnya masing masing, I Gusti Made Tianyar dengan menghunus keris I Tanpa Sirik menyeiang kakaknya 7 Gusti Ngurah Kaler, dan pada waktu itu semua warga puri sangat cemas karena Istri I Gusti Made Tianyar sedang hamil tua sedangkan Istri 1 Gusti Ngurah Kaler mempunyai anak yang masih kecil, perang saudara berlangsung hingga tewasnya kakak beradik 7 Gusti Ngurah Kaler dan 7 Gusti Made Tianyar di Puri Suke Ngeneb serta banyak pula warga puri dan rakyat menjadi korban perang saudara sehingga darah mengalir dari puri ke sungai sehingga sungai itu meluap maka sungai itu disebut Tukad Luah sedangkan mayat mayat yang berrumpuk di muara sungai didorong ke laut oleh rakyat yang masih hidup maka tempat tersebut disebut Penyorogan Sawa, setelah tewasnya I Gusti Ngurah Kaler dan I Gusti Made Tianyar keadaan puri sangat kacau dan suram maka kedua janda itu panik yaitu Janda/Gusti Made Tianyar yang sedang Hamil tua bersiap siap menyiapkan perbekalan dan lainnya. disebelah barat puri dari sanalah beliau menyiapkan perbekalan (Gelar) sampai kini tempat tersebut bernama Tukad Gelar dan selanjutnya Janda I Gusti Made Tianyar mengungsi ke barat berjalan hingga sampai ke Tanggu Wesiya, dari sana lah keturunan menyebar ke barat hingga sampai di Pegametan melewati Pulaki, sedangkan Janda I Gusti Ngurah Kaler karena di Puri Suke Ngeneb dalam keadaan kosong lalu bersama anaknya yang masih kecil beliau pergi mengungsi ke arah selatan ke Mengui, Kapal hingga sampai ke Klungkung, sehingga sampai kini keturunan beliau berada dimana mana di pelosok Pulau Bali, akibat perang saudara di Puri Suke Ngeneb keadaannya sangat menyedihkan sehingga warga dari Banjar Getas lurun tangan untuk mengurus mayat mayat warga puri yang bergelimpangan dan lanjul melaksanakan Upacara Pelebon dan terus Mukur hingga kesucian rohnya meraga Nisklaatma Dilingga Setanaang di Pura Dalem Kadewalan ngiring Suniyatman leluhur yang kini disebut Pura Kawitan Dalem Kadewatan di Suke Ngeneb Gangga Luah Toya Anyar Kawitan Warga Besar Sentana SHRIAJI SIRA ARYA GAJAHPARA yang keturunannya selaku penyusung pura tersebar kcmana mana, sedangkan lokasi Pura Dalem Kadewatan bcrhubung di Bali telah dibagi menjadi 8 kabupaten maka lokasinya sekarang berada didaerah Kabupaten Buleleng yaitu ; di Banjar Adat Dusun Ngis, Desa Tembok, Kecamatan Tejakula. Kabupaten Daerah Tingkat II Buleleng, berhubung di puri dalam keadaan kosong lalu pembangunan pura pendarmaan dilanjutkan oleh keluarganya dari Banjar Getas Tianyar yaitu Keluarga / Gusti Ngurah Getas bersama masyarakatnya dan pembangunannya dilaksanakan di barat laut Puri Banjar Getas, di pinggir Pantai Tianyar, dan setelah selesai pembanguna tersefaut lalu diberi nama CANDI GORA, yang artinya ; Candi adalah tempat pemujaan     ( pedarmaan ) dan Gora adalah yang dipuja kewibawaan serta kebesaran seorang pemimpin (SHRIAJI SIRA ARYA GAJAHPARA) yang telah berjasa terhadap rakyat dan negara terutama keamanan terjamin semasa SHRIAJI SIRA ARYA GAJAHPARA memegang kekuasaan di Toya Anyar maka dari itu yang di Astawa di Pura Candi Gora ialah ; Betara Sakti Madue Gama, yang dipuja dan disembah oleh masyarakat banyak dalam wilayah pegangannya dari Ponjok Battt sampai ke Basang Alas ( Daerah Toya Anyar) dan khusus bagi warga keturunannya yang kini berada dimana mana.

Kini tersebut perjalanan Istri I Gusti Made Tianyar yang sudah hamil tua sampai di Tanggu Wesiya dan kelurunannya tersebar sampai ke Desa Pegametan dan dianlaranya ada yang bernama/Gusti Made Pegametan mengambil istri, putrinya / Jem Bendesa Pulaki dan mempunyai putra bernama / Gusti Ngurah Pulaki dan bertempat tinggal di Desa Pulaki dan kemudian menjadi pemimpin Desa Pulaki dengan didampingi oleh I Jero Bendesa Pulaki sehingga menurukan beberapa orang putra dan pada waktu itu beliau memegang daerah Desa Pulaki, pada suatu ketika kena musibah keadaan desa dan sekitarnya kena paceklik serta berjangkitnya penyakit yang menyebabkan banyak masyarakat melarat serta kehilangan sanak keluarganya begitu pula dengan keadaan I Gusti Ngurah Pulaki, beliau sangat terpukul bathinnya karena banyak keluarganya yang meninggal sehingga beliau pasrah diri, sedang beliau termenung datanglah seorang Pandita Sakti Wau Rauh (Dang Hyang Nirata) bersama dengan putrinya yang sangat cantik serta harum baunya bernama Diah Ayu Suabawa bertamu ke tempat beliau yang bertujuan akan memperlina putrinya, karena beliau sangat sayang kepada putrinya selain cantik juga harum baunya takut nanti putrinya dilamar oleh Ida Dalem Raja Klungkung itu menyebabkan Dang Nirata berkeinginan memperlina putrinya, mendengar penjelasan itu maka / Gusti Ngurah Pulaki ingat keadaan dirinya bahwa ditinggalkan oleh keluarganya hanya beberapa saja yang masih maka beliau mohon ke hadapan Dang Hyang Nirata agar diperlina bersama keluarganya yang masih untuk ngiringang Diah Ayu Suabawa, maka karena sangat permohonan I Gusti Ngurah Pulaki agar turut diperlinan maka Dang Hyang Nirata lalu melakukan Upacara Perelina Putrinya yang diikuti oleh/Gusti Ngurah Pulaki serta keluarganya maka gaiblah Diah Ayu Suabawa pindah ke alam lain dan/ Gusti Ngurah Pulaki bersama keluarganya juga gaib dan berganti wujud menjadi seekor Macan Kuning dan seekor Macan Hitam karena telah diperlina oleh Dang Hyang Nirata.

Diah Ayu Suabawa setelah diperlina roh sucinya disemayamkan di Pura Melanting Pulaki dan diiring oleh roh sucinya / Gusti Ngurah Pulaki beserta keluarganya yang bisa benwujud seekor Macan Kuning dan seekor Macan Hitam, dan kini Desa Pegametan karena keadaan daerahnya paceklik dan menyebar hawa penyakit sehingga keluarganya tinggal 200 orang mengingat dalam keadaan demikian lalu mengadakan musyawarah untuk kembali ke Puri Suke Ngeneb sambil singgah di Desa Pulaki mengajak / Gusti Ngurah Pulaki pulang, maka setelah selesai musyawarah maka berjalanlah rombongan Keluarga / Gusti Made Pegametan ke arah timur dan singgah di Desa Pulaki setibanya di Desa Pulaki rombongan tidak berjumpa dengan / Gusti Ngurah Pulaki yang dijumpai hanya dua ekor Macan Kuning dan Hitam tapi sangat jinak lalu oleh Macan Kuning dan Hitam merasa kaget kedatangan keluarganya begitu banyak sehingga dia tidak merasakan bahwa dirinya telah berwujud macan lalu ingin menenyakan kedatangan keluarganya ke Pulaki, baru akan berbicara maka larilah semua keluarganya ke arah timur dan langsung dikejar oleh dua ekor macan tersebut yang ingin berbicara dengan keluarganya sehingga sampai di Penyambangan yang kini disebut Penyabangan, maka sadarlah dia bahwa dirinya berwujud seekor Macan dan kembalilah ke barat ke Pulaki, sedangkan keluarganya yang lari ke timur tidak menyadari bahwa macan yang mengejar itu adalah keluarganya yang diperlina oleh Dang Hyang Nirata (I Gusti Ngurah Pulaki) berwujud Macan yang pada waktu mendekat dikira akan menerkam maka keluarganya lari ke timur akan terus pulang ke Puri Suke Ngeneb.

Setiba di Suke Ngeneb dijumpai bekas purinya sudah menjadi hutan belantara maka atas persetujuan bersama lalu perjalanannya dilanjutkan menuju Tianyar ke Banjar Getas ke tempat keluarganya dan karena perjalanannya sangat jauh maka rombongan itu istirahat di suatu tempat sambil menghitung anggota keluarganya setelah dihitung ternyata sebanyak 150 orang yang masih sedangkan yang 50 orang belum kelihatan maka sambil menunggu yang belum datang maka rombongan itu membuat kemah serta banngsal karena tempat itu dirasakan sangat cocok sebagai tempat tinggal dan pula rombongan tinggal sebanyak 150 orang (Karobelah ) maka tempat tersebut dengan nama Desa Karobelahan. Tersebut kini sisa rombongan yang berjumlah 50 orang, sewaktu dikejar oleh macan dia berlari paling belakang dan sehingga tidak berjumpa dengan rombongan yang duluan, setelah istirahat sejenak lalu melanjutkan perjalanannya ke timur dengan melalui jalan pinggir pantai hingga sampai di Banjar Getas lalu langsung berjumpa dengan keluarganya serta menceritakan keadaan di Pegametan dan pengalamannya diperjalanan dan rombongan itu lalu diajak menetap di Banjar Getas, karena keluarga yang di Banjar Getas menjadi Pengelisir di Tianyar.

Untuk menyatukan Semeton terutama yang ada di wilayah Tianyar baik di Karobelahan maupun di Banjar Getas maka dibuatlah sebuah Pura Ibu Pejeneng bertempat di Banjar Getas Tianyar dan salah satu warga yang baru datang dari Pegamelan diberikan tugas menjadi Pengelingsir di Pura Ibu Pejeneng dan lainnya diberikan tugas untuk mengurus Pura Candi Gora dan unluk tanda bukti bahwa dari warga Banjar Getas meinberikan tugas mengurus Pura Candi Gora maka setiap melaksanakan Piodalan di Pura Candi Gora maka dibuatlah sebuah Dangsil bertingkat 9 di Banjar Getas untuk di usung ke Pura Candi Gora dan sebagai pelengkap upacara ditambah dengan Kebo Kinelet (Bayang bayang Kebo ) lama kelamaan biayanya dianggap berat oleh Kerame Pura maka untuk Dangsil, dan Pecaruan Kebo dibuat 2 tahun sekah hingga kini, sekitar sudah beberapa turunan berjalan maka pada suatu saat pengurus Pura Candi Gora mendapat kesakitan baluva menurut petunjuk Ida Betara bahwa dari pengurus pura belum pemah Pedek Tangkil sembahvang ke Pura Melanting Pulaki, maka mengingat tempat tersebut sangatjauh maka dibuatlah penghayatan disamping barat Candi Gora untuk ngayat leluhur yang iring di Pura Melanting Pulaki dan penghayatan tersebut diberi nama ; Melanting di Candi Gora dan pengurusnya dipercayakan pada Semeton warga Pasek Minggir yang ada di Tianyar dan Piodalannya bersamaan dengan Piodalan Pura Candi Gora, pada setiap Purnamaning Sasih Kara.

Demikianlah jalannya sejarah beliau yang semula beliau bergelar SHRI JAYA PARA, karena jasanya dapat titel Gajah dan bergelar ARYA GAJAH PARA  dan berpulra bergelar ; SHRI AJI SIRA ARYA GAJAH PARA dan setelah Meloka Para Seraya oleh Nabe beliau bergelar Sang Resi Sakti, maka menciptakan Gamapati yang dianugerahkan kepada sanak kelurunannya bergelar Sang Resi Sakti Madue Gama, dan setelah Amoring Cintie Dewalaya Nujur Kadewatan meraga Suniyatma manunggal dengan kesucian Sang Hyang Perematma meraga Perama Siwa Suniatmanenamah, melinggah setana di Pura Dalem Kadewatan Keragayan KAWITAN, ke iring oleh ;
1.            Nisklaatman Padmi Yang Sinuhun ( Diah Ayu Awetara).
2.            Nisklaatman Putran Hyang Sinuhun (Arya Gajah Para II dan Arya Getas).
3.            Nislklaatman dan Adiatinan warga besar sanak keturunan Hyang Sinuhun yang keseluruhannya melingga sentana di Pura Dalem Kadewatan di Suke Ngeneb Gangga Luah Toya Anyar, Kawitan Warga Besar Sentana SHRI AJI SIRA ARYA GAJAH PARA dengan Prasasti.





6 komentar:

  1. satu kata,,, salut,,!!!

    BalasHapus
  2. bih becik nike benjang wenten galah titang made artanadi saking dusun sengkiding jagi tangkil

    BalasHapus
  3. puniki jeg pencerahan sane becik tityang wacen, diastun tityang saking desa tetangga (desa tembok) wawu mangkin tityang uning asal usul tur sejarah daerah inucap.suksme atur tityang _saking wayan putu arimbawa

    BalasHapus
  4. keep posting ya, sekarang saya jadi tahu ttg silsilah leluhur saya.

    BalasHapus
  5. Sisip tiang metaken mangde tatas uning, tiang saking kawitan arya kenceng, wantah ke dadosang napi ten tityang nangkil ring pura dalem kedewatan, indayang icen tiyang pemargi..
    Suksema, made_adjuzt@yahoo.com

    BalasHapus
  6. Diastun tiang nenten keturunan Arya sakewanten becik pisan napi sane sampun tiang wacen puniki,dados tatas uning sapunapi pemargin ARYA GAJAH PARA.suksma.( Eka Kacrut Sengkiding )

    BalasHapus